Postingan Admin Grup di Facebook Wang Ritam “AC” Tuai Kontroversi, Dianggap Sebarkan Ujaran Kebencian Tentang Pendidikan Pesantren

admin grup

PALI, BERITAKITO.ID – Sungguh disesalkan ulah oknum salah satu admin grup Facebook Wang Ritam berinisial “AC”. Di grup yang jumlah anggotanya mencapai puluhan ribu tersebut, bukan malah memberikan edukasi, malah membuat ujaran kebencian pada kolom status yang diunggah ke grup Facebook Wang Ritam.

AC diduga menyebarkan ujaran kebencian kepada pondok pesantren di Indonesia, dampak dari pemberitaan kekerasan seksual yang sedang marak diberitakan media di pondok pesantren.

Dalam status Facebooknya dia membuat narasi yang sangat berbahaya cenderung fitnah dan ujaran kebencian. Dia mengatakan bahwa.

“kasus pemerkosaan banyak terjadi di banyak Pondok Pesantren di Indonesia “

bahkan bukan hanya sampai disitu saja dia juga mengatakan bahwa

“Pondok Pesantren tidak menjadi ruang yang aman bagi santriwati untuk mendapatkan pendidikan”

Postingan Admin Grup banyak Membuat Tokoh Agama Setempat Angkat Bicara

Berikut petikan status yang dibuat oleh AC. Akibatnya, sejumlah tokoh agama yang berasal dari Desa Air Itam, kecamatan Penukal, Madi Apriadi angkat bicara.

Pria yang kerap disapa Cak Madi itu menyesali cuitan AC yang bukan memberikan suatu edukasi malah menyebarkan ujaran kebencian.

“Sangat disesalkan narasi status itu menggiring opini masyarakat dan seolah-olah pondok pesantren tempat para predator kejahatan seksual dan tempat yang menakutkan sehingga tidak aman untuk anak-anak kita menuntut ilmu,” ungkap Cak Madi, yang juga merupakan Dosen tetap di Fakultas Tarbiyah dan Kependidikan Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang.

Cak Madi, berharap AC menyampaikan permohonan maaf dan menarik atau menghapus cuitannya yang sangat tidak mengedukasi itu.

“Kita tidak bisa pungkiri para kiyai dan santri memilki kontribusi yang besar untuk bangsa dan negara ini. Jadi jangan sampai kita tidak berpikir bijak dalam melihat masalah kekerasan seksual yang terjadi dan diberitakan di media saat ini sehingga kita kehilangan akal sehat dan memfitnah lagi menyebarkan ujaran kebencian di tengah-tengah masyarakat,” tambahnya.

Ia juga meminta kepada seluruh masyarakat kabupaten PALI, serta seluruh masyarakat Sumsel agar tetap bijak dalam menerima informasi dan bijak juga dalam menggunakan sosial media untuk membuat status.

“Kalau kata pepatah itu “hujan sehari merusak kemarau setahun” satu kejelekan merusak seribu kebaikan. Lagi pula pelaku kekerasan seksual yang diberitakan di media itu bukan terjadi di lingkungan pondok pesantren melainkan di sekolah yang berbasis boarding school,” tutupnya.