Maaf, kami mendeteksi ekstensi Adblocker di browser Anda sedang aktif!
Atau Anda tidak mengaktifkan Javascript. Harap nonaktifkan ekstensi Adblocker Anda![ Refresh ]
Kisah Haru Atlet Difabel Peraih Medali Emas Peparprov OKU, Dari Patah Kaki Hingga Hampir Diamputasi - Beritakito.id
berita kito

Kisah Haru Atlet Difabel Peraih Medali Emas Peparprov OKU, Dari Patah Kaki Hingga Hampir Diamputasi

  • Bagikan
atlet difabel kabupaten pali

PALI, BERITAKITO.ID – Dibalik kekurangan, pasti terdapat kelebihan. Kata-kata itu tepat kiranya mengisyaratkan bagaimana seorang atlet difabel untuk meraih prestasi.

Salahsatunya Retno Harmoko, SH. Atlet disabilitas yang berasal dari kabupaten PALI, Provinsi Sumatera Selatan.

Atlet yang memperkuat tim volly duduk kabupaten PALI, itu berhasil meraih menjadi jawara di ajang Pekan Paralympic Provinsi (Peparprov) Sumsel III, kabupaten PALI. Tak ayal, tim volly duduk berhasil menyumbang satu medali emas untuk kontingen Bumi Serepat Seresan.

Keberhasilan timnya tidak terlepas atas doa dan dukungan yang diberikan oleh orang tua, keluarga, manager tim, pelatih dan seluruh masyarakat kabupaten PALI.

“Tentunya, keberhasilan ini diraih atas kekompakan tim, terimakasih teman-teman Johan Efendi, Robi Sanjaya, Nardi Kartono, Susianto, Jun Affan Efendi, Suherdi dan Herli Setiawan. Kita membuktikan bahwa kita bisa berprestasi untuk kabupaten PALI. Saya sangat yakin dan percaya keterbatasan bukan suatu penghalang untuk terus berpretasi,” kata pria yang kerap disapa Moko Gepeng itu.

Namun, sebelumnya ternyata Moko bukanlah atlet difabel. Kendati olahraga merupakan salahsatu kegiatan favorit dari Putra ke empat dari pasangan Bapak Sarjiman dan Ibu Tukirah. Moko diketahui merupakan pemain sepak bola.

Tidak hanya sepak bola, olahraga renang serta basket juga menjadi olahraga kesukaan pria kelahiran 23 Maret 1983 itu.

Di lapangan hijau, Moko Gepeng banyak menorehkan prestasi bersama beberapa club sepakbola Pendopo, kecamatan Talang Ubi. Bahkan saat di bangku kuliah tahun 2003 Moko menjuarai turnament Liga Mahasiswa Universitas Janabadra bersama club Nusantara FC Jogja.

“Olahraga memang salah satu kegiatan yang saya sukai dari sejak kecil,” terangnya.

Namun, kecelakaan yang dialaminya pada saat di lapangan hijau, pada tahun 2012 silam, membuat kakinya patah.

“Kejadian kelam itu, tentu akan selalu terkenang. Bahkan, pada saat itu, kaki saya hampir diamputasi. Namun saya menolak, karena saya yakin masih bisa beraktifitas baik dalam hal olahraga ataupun berkerja walau dengan kondisi difabel seperti saat ini,” terangnya sambil menunjukkan kondisi kakinya yang mengalami patah.

Baca Juga :   Warga di Hebohkan Temukan Bocah Pelajar SMP Tewas di Bawah Jembatan Karang Palembang

Lima tahun lebih pasca peristiwa itu, alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) itu berusaha bangkit. Dengan kondisi kekurangan yang dimilikinya, tentu tidak mudah baginya untuk menyesuaikan.

Terlebih kegiatannya selama ini, tidak bisa Ia kerjakan seperti biasa. “Mendapat kabar dari dokter saja, mengenai kaki saya yang akan diamputasi, seperti disambar petir di siang bolong. Apalagi sampai-sampai saya harus beraktivitas dengan kaki yang tidak sempurna. Hal itu membuat saya syok, dan tidak bisa berkata lagi,” ceritanya, dengan mata yang berkaca-kaca.

Beruntung, dirinya difabel namun memiliki orang tua dan keluarga yang begitu perhatian.

“Alhamdulillah, orang tua dan keluarga saya selalu memberikan motivasi agar bisa survive. Sehingga, kekalutan saya sedikit demi sedikit pudar, dan saya bisa menjalani aktifitas sehari-hari. Meski dengan kaki seperti ini,” tambah pria yang juga aktif di organisasi KNPI dan KAHMI kabupaten PALI.

Pada tahun 2017 lalu, mantan tenaga teknis KPU Kabupaten PALI itu bertemu dan bergabung ke National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kabupaten PALI, di bawah kepemimpinan Asrohi (alm) dan Santosa sebagai Dewan Pembina.

“Di NPCI PALI, saya benar-benar merasa memiliki semangat untuk bisa meraih prestasi. Dan tentunya bisa mengharumkan nama kabupaten PALI di kancah regional Sumsel, Nasional, maupun Internasional,” imbuhnya.

Bergabung di cabor volly duduk, Moko Gepeng dan kawan-kawan membuktikan bahwa keterbatasan tidak pernah menghalangi untuk mengukir prestasi.

“Setelah bangkit dari insiden patah kaki yang dialaminya, Saya sadar bahwa untuk bisa kembali mengukir prestasi tidak harus dengan kondisi fisik yang sempurna. Asalkan kita punya tekad, kemauan, semangat pantang menyerah, dan selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik. Semoga, hal ini bisa memotivasi teman-teman difabel untuk tidak minder dengan keterbatasan. Yakin percaya, setiap ada kekurangan, Allah SWT pasti memberikan kita kelebihan,” tukasnya.

  • Bagikan